“Om Telolet Om” sukses jadi viral di dunia. Ada tiga pelajaran kunci kesuksesannya: hilarious content, gunakan video dan berikan manfaat timbal-balik untuk target pasarnya.

“Om Telolet Om” sukses menjadi konten viral di tanah air. Di samping digemari oleh masyarakat di sini, banyak influencer mancanegara (artis, musisi, pesepakbola, tokoh politik) yang meramaikan viral ini. Dengan demikian, untuk ukuran konten viral, secara jangkauan luas, “Om Telolet Om” adalah contoh kasus sukses dan menarik.

Pengalaman dua hari liburan di Yogyakarta, saya melihat banyak antusiasme warga setempat yang pasang poster “Om Telolet Om”. Mereka ikut-ikutan dengan yang beredar di media sosial. Efek viral “Om Telolet Om” ini telah berpengaruh ke masyarakat penontonnya untuk bertindak sama. Luar biasa.

Mengapa mereka sukses? Secara umum, mengutip hasil penelitian Wharton Business School Social Transmission, Emotion, and the Virality of Online Content, saya yakin bahwa tingkat viralitas suatu konten sangat ditentukan oleh seberapa tinggi level kedekatan konten dengan pembacanya, baik positif maupun negatif. Secara umum, positive content is more viral than negative content. Saya melihat bahwa “Om Telolet Om” masuk dalam kategori positive content.

Saya sendiri punya punya tiga poin penting yang bisa kita pelajari dari viral konten “Om Telolet Om” ini. Pertama, “Om Telolet Om” adalah jenis konten yang menghibur (hilarious), sehingga tingkat keterikatan antara penonton dengan kontennya cukup tinggi. Kedua, konten ini disampaikan dalam bentuk video sehingga bisa mudah dicerna dan diterima oleh masyarakat. Ketiga, konten ini memberikan benefit bagi mereka yang ikut-ikutan memviralkannya.

Let’s to explore one by one…

 

#1 Konten yang Menghibur

Dalam bukunya Buzzmarketing: Get People to Talk About Your Stuff, Mark Hughes menyebutkan ada 6 topik yang bisa menjadi bahan perhatian dan percakapan masyarakat sehingga menciptakan buzzmarketing (buzzmarketing captures the attention of consumers and media to the point where talking about your brand or company becomes entertaining, fascinating and newsworthy).

Keenam topik itu antara lain: hal-hal yang kurang layak alias improper diumbar ke umum (taboo); tentang hal-hal tidak biasa yang sebelumnya tidak pernah diketahui (unusual); konten yang memalukan sehingga memancing pembacanya marah (outrageous); konten yang menghibur (hilarious); konten yang membuat orang terkagum dan merasakan manfaatnya sehingga sulit melupakan (remarkable); dan konten yang sebelumnya rahasia dan kemudian dibongkar untuk publik (secrets).

Nah, kesuksesan “Om Telolet Om” menjadi viral dikarenakan menghibur (hilarious). Dengan sifatnya yang menghibur, maka “Om Telolet Om” pun dapat menarik hati semua orang.

Dalam menciptakan viral pemasaran, ada pepatah klasik yang bilang “content is king”. Konten adalah segalanya. Betul, dan semua orang mengamini pepatah di atas itu. Konten pun menjadi ujung tombak untuk mengedukasi, membangun engagement, hingga menciptakan advocacy. Konten pun menjadi alat diferensiasi yang efektif. Brand yang sebelumnya tidak sadar pentingnya konten, mereka pun mulai menciptakan dan mengembangkan konten.

Tetapi, menurut Kendall Baker, menciptakan konten saja tidak cukup atau sudah biasa. Akan menjadi luar biasa bila konten yang diciptakan menghibur. Konten menghibur ini bisa meningkatkan brand awareness, brand recall dan customer engagement yang tinggi.

Sangat beralasan bila Kendall Baker berkeyakinan bahwa konten yang menghibur itu penting. Dalam risetnya, Kendall menemukan bahwa rata-rata orang menghabiskan waktu untuk membaca di media sosial adalah 8 jam. Salah satu cara untuk mendapatkan perhatian para pembaca di media sosial adalah menciptaka konten yang menghibur.

“Content ain’t king unless it’s funny.”

 

#2 Konten Disampaikan Melalui Video

Di samping konten yang menghibur, kesuksesan “Om Telolet Om” karena disampaikan melalui media video. Jenis media ini sangat efektif dalam menciptakan viral.

If a picture is worth a thousand words, what is a video worth?

James McQuivey menemukan bahwa nilai video lebih tinggi daripada gambar atau foto. Dalam laporannya How Video Will Take Over The World: What The Rise Of OmniVideo Means For Consumer Product Strategy Professionals, James menemukan bahwa foto bernilai seribu kata, maka video berdurasi 1 menit bernilai 1.8 juta kata.

Secara sederhana, James menghitung dengan cara kelipatan. Apabila satu gambar bernilai 1.000 kata, maka dalam setiap detik terdapat 30 frame. Setiap frame itu bernilai 1.000 kata, maka dalam 1 detik video bernilai 30.000 kata. Dengan demikian, 1 menit video bernilai 1.8 juta kata.

Scott MacFarland juga melihat bahwa video merupakan tren masa depan. Ini bisa dilihat dari angka-angka berikut:

  • Di Amerika Serikat, setiap bulan 40 juta video diluncurkan

  • Setiap bulan, 75 juta orang menonton video secara online di Amerika Serikat

  • US$6,3 miliar dikeluarkan untuk iklan video pada 2015

  • 95% marketer mengimplementasikan video dalam strategi pemasarannya

  • 84% marketer menggunakan video untuk pemasaran di website

  • Video mendongkrak 82% efek positif terhadap organisasi

  • Video meningkatkan brand recall hingga 33%

  • Video meningkatkan message recall mencapai 45%

 

Dengan demikian, tidak heran apabila fenomena “Om Telolet Om” ini sukses karena disampaikan melalui video. Selain “Om Telolet Om”, ada banyak contoh video yang menjadi viral di Indonesia.

Oleh karena itu, nilai pelajaran yang bisa diambil dari kasus ini adalah gunakanlah media video apabila para master ingin sukses membuat konten viral bagi produknya.

 

#3 Konten yang Memberikan Timbal-Balik

Hebohnya fenomena “Om Telolet Om” juga dikarenakan masifnya klub sepakbola internasional yang ikut-ikutan mempromosikan. Dengan football bus yang dimiliki, mereka pun turut serta mempromosikan “Om Telolet Om”. Mulai dari klub sepakbola Real Madrid, Barcelona, Intermilan, Bayern Munchen, dan lainnya.

Mengapa mereka rela ikut-ikutan mempromosikan? Ini tidak lepas dari jumlah penggemar sepakbola di tanah air cukup besar dan fanatik. Maka, dengan ikut-ikutan promosi “Om Telolet Om”, mereka akan mendapatkan atensi dari penggemarnya.

Dalam laporan risetnya Social Transmission, Emotion, and the Virality of Online Content, Jonah Berger dan Katherine L. Milkman dari Wharton Business School melihat bahwa besarnya minat orang untuk memviralkan konten karena memiliki motif untuk mendapatkan benefit timbal-balik (reciprocal).

Secara sederhana, banyaknya pihak yang ikut-ikutan memviralkan konten “Om Telolet Om” ini tidak lepas dari motif. Gencarnya klub sepakbola Eropa ikut-ikutan memviralkan “Om Telolet Om” disebabkan keinginan untuk membangun ikatan dan loyalitas penggemarnya di tanah air. Karena itu, tak heran para politikus pun rela ikut-ikutan memviralkan konten ini.

 

Melihat tiga pelajaran penting dari fenomena “Om Telolet Om”, maka para master bisa belajar mencoba menerapkan ide ini di dalam teknik pemasaran atau penjualan bagi brand-nya: ciptakan konten yang menghibur dan positif, gunakanlah media video dan berikan manfaat timbal-balik untuk target pasarnya.