Di bulan puasa, para marketer harus punya amalan tersendiri agar bisa sukses menggarap pasar muslim. Ini adalah 5 amalan yang dirangkum oleh Sales Master agar bisa diaplikasikan oleh marketer.

 

Di bulan Ramadan, umumnya setiap insan didorong untuk melakukan amalan agar ibadah puasanya semakin sempurna. Sholat Tarawih, zakat fitrah, khatam membaca Al-Quran, dan berbagi takjil dengan anak yatim-piatu atau fakir miskin adalah beberapa contoh amalan yang umum dilakukan untuk mengisi waktu bulan puasa. Semakin sering amalan itu dilakukan, maka semakin banyak pahala yang didapatkan oleh kaum muslim.

Inipun bisa berlaku bagi para marketer. Marketer harus punya ‘amalan’ khusus untuk mengisi waktu bulan puasa ini agar sukses mencapai target penjualan. Dari berbagai studi literatur yang dilakukan, Sales Master punya 5 amalan khusus yang bisa diterapkan oleh para marketer agar sukses melalui bulan puasa ini dengan target penjualan yang sempurna.

 

#1 halal adalah ‘Amalan’ basic

Seperti yang sudah disampaikan di ebook pada minggu lalu, halal adalah faktor penting bagi konsumen muslim. Banyak merek berlomba-lomba memperoleh logo halal dari MUI dan gencar mengomunikasikannya ke target pasar, khususnya di luar makanan/minuman. Dimulai dari Wardah, Mazaya, Zoya, Muslimah, Almeera, Softex, Maxim Halania, Paseo, dan lainnya.

amalan ramadanUntuk produk di luar kategori makanan/minuman, logo halal pun jadi new differentiator di dalam kancah persaingan. Mengapa? Selama ini, konsumen hanya tahu tentang halal/haram produk itu yang dikonsumsi seperti makanan/minuman/obat-obatan, tetapi belum ngeh produk yang digunakan seperti kosmetik, fesyen, jasa, toiletries, manufaktur, pendidikan, dan lainnya. Karena itu, wajar jika mereka gembor-gemborkan.

Oleh karena itu, halal adalah ‘amalan’ basic yang harus dipenuhi oleh para pemilik merek jika ingin sukses menggarap pasar konsumen muslim di bulan puasa ini. Apalagi, pada 2014, Pemerintah telah mengeluarkan UU No. 33/2014 tentang Jaminan Produk Halal yang mewajibkan seluruh produk/jasa harus memiliki sertifikasi halal.

 

#2 tahu ada 3 jendela dan 2 pintu konsumsi, ini juga amalan yang penting

Bulan puasa itu terdiri dari tiga jendela dan dua pintu konsumsi. Yang dimaksud dengan tiga jendela adalah sebelum, selama dan setelah puasa (idul fitri). Lalu, dua pintu di sini maksudnya adalah selama berpuasa dan saat berpuasa. Mengapa marketer harus aware terhadap 3 jendela dan 2 pintu konsumsi ini?

Dari survei Criteo, dalam perilaku belanja online di Indonesia (ID) dan Asia Tenggara (Southeast Asia/SEA), akan terlihat pola waktu belanja selama dan setelah bulan puasa. Sebelum Ramadan, mereka banyak mencari tahu tentang produk travel, resep makanan, dakwah, dan lainnya. Pada awal-awal puasa, mereka akan membelanjakan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari seperti makanan-minuman dan peralatan rumah tangga. Lalu, di minggu ketiga dan keempat, umumnya mereka mencari produk-produk fesyen, elektronik, travel, dan mainan.

Lalu, ada dua pintu konsumsi sehari-hari yakni saat berpuasa dan setelah berbuka puasa (hingga sahur). Perilakunya berbeda. Saat berpuasa, konsumen muslim biasanya mencari-cari informasi seputar persiapan untuk berbuka: resep makanan/minuman, tempat bukber, promosi ecommerce, dan lainnya. Saat setelah berbuka, mereka cenderung mencari informasi hiburan (games, film, baca buku, dan lainnya).

Source: gadgetsquad.id

So, dengan mengetahui insights perilaku selama berpuasa dan sehari-sehari, maka program promosi yang kita rancang akan semakin tajam-menghujam ke target pasar.

 

 

#3 semua tema pemasaran serba ramadan, ini trik ‘Amalan’ untuk menggaet hati pelanggan

Logo, packaging, jingle, tagline, hingga tone warna iklan pun harus mengikuti tema Ramadan. Ya, adanya Ramadan maka seluruh tema pemasaran pun harus serba Ramadan. Beberapa brand rutin meluncurkan program khusus selama bulan Ramadan. Ini berlaku bagi global brand ataupun Islamic brand. Dan, hampir seluruh kategori produk pun melakukannya.

Tujuannya ialah agar brand dipersepsikan muslim-friendly. Dengan meluncurkan program pemasaran khusus di bulan puasa, maka pelanggan pun akan menjadi kian loyal. KFC meluncurkan KFC’s Midnight Call yang memberikan penawaran sahur. Domino’s Pizza memberikan penawaran special ramadhan family meal dengan diskon berbuka puasa. Semua komunikasi visual, mereka rancang sangat muslim-friendly agar produknya bisa diterima.

 

#4 berbagi adalah ‘Amalan’ tambahan nan manjur

Ramadan adalah bulan kebaikan. Untuk itu, salah satu program promosi yang harus diimplementasikan oleh marketer ialah berbagi (giving) kepada sesama. Momen-momen berbagi di bulan puasa lebih banyak dibandingkan waktu lainnya. Takjil, buka bersama, zakat, ataupun shodaqah bisa menjadi contoh berbagi di kegiatan Ramadan. Marketer harus memahami dan menggunakan strategi ini sebagai tactical promotion kepada target pasar.

Misalnya Levi’s membuat program #BerbagiItuKeren. Dengan mendonasikan jeans lama, pelanggan mendapatkan voucher Rp200 ribu untuk membeli produk Levi’s. Shopee kerjasama dengan Dompet Dhuafa meluncurkan program #MemberiDariHati. Pelanggan Shopee bisa berdonasi dengan 6 pilihan produk berbagi, mulai dari Rp10 ribu sampai Rp300 ribu. Dengan demikian, pelanggan pun mendapatkan spiritual benefit, selain functional dan emotional benefit dari produknya.

 

#5 What’s Your Ramadan Story? Ini ‘Amalan’ yang Tak Boleh Dilupakan

Di bulan puasa, para marketer juga harus bisa menciptakan storytelling daripada sekadar advertising. Storytelling itu soft-selling, dan advertising adalah hard-selling. Di bulan puasa, orang lebih suka menonjolkan cerita daripada sekadar ditawarkan secara to the point. Oleh karena itu, para marketer pun harus pintar membuat storytelling kepada target pasar. #BahagiaItuDekat Grab adalah contoh storytelling tentang kontribusi brand dalam menciptakan persaudaraan, peningkatan usaha masyarakat, kekeluargaan, dan lainnya.

Selain menciptakan storytelling tentang produk/layanan sendiri, marketer pun harus secara cerdas memberikan ruang bagi pelanggan untuk bisa berbagi momen (share the moment). Pelanggan bisa didorong untuk berbagi cerita, opini, masukan, ataupun pengalaman yang bisa membuat mereka semakin loyal. #SenyumKebaikan Wardah adalah contoh bagaimana pelanggan dapat berbagi pengalaman memberinya kepada sesama.