SANDIAGA UNO BOOK LAUNCHING
SANDIAGA UNO BOOK LAUNCHING

Di saat usianya masih muda, Sandiaga Salahuddin Uno sudah masuk dalam jajaran sebagai pengusaha kaya. Bagaimana cara kaya ala Sandiaga?

 

Saya akan mengulas perjalanan dia menjadi kaya dari buku biografinya Kerja Tuntas, Kerja Ikhlas: One Way Ticket to Success (2017). Buku ini cukup menarik karena Sandiaga bercerita tentang kehidupannya: dari latar belakang keluarga, keputusannya berwirausaha, sepak-terjang di politik, hingga saat ini.

Dari bukunya itu, saya tak ingin mengupas tentang perjalanan hidupnya. Saya hanya ingin memotret bagaimana cara dia menjadi orang kaya. Setelah membaca buku itu, ada beberapa pelajaran bagaimana cara kaya yang dia lakukan. Saya menemukan ada lima cara dia menjadi kaya.

kaya ala sandiaga uno
Source: www.islamedia.id

#1 Memilih Berubah Menjadi Wirausaha

Poin pertama cara kaya ala Sandiaga ialah menjadi wirausaha. Dengan bekal pendidikan tingginya, Sandiaga punya bekal untuk berkarir di perusahaan multinasional. Sayang, krisis moneter 1997-1998 memutarbalikkan ceritanya dan ia pun memilih menjadi wirausaha.

“Saya mendapatkan kekayaan dengan jalan berani berubah, mulai dari mengubah orientasi hidup dari seorang karyawan menjadi seorang wirausaha sampai dengan melakukan perubahan-perubahan dalam mengelola bisnis,” tulis Sandiaga dalam bukunya. Ini adalah salah satu keputusan penting yang dilakukan olehnya saat ia memulai menjadi pengusaha.

 

“Saya mendapatkan kekayaan dengan jalan berani berubah, mulai dari mengubah orientasi hidup dari seorang karyawan menjadi seorang wirausaha sampai dengan melakukan perubahan-perubahan dalam mengelola bisnis.” 

– Sandiaga Uno

 

Pada awalnya, Sandiaga adalah Pro-Manager di Bank Summa pada 1990-1991 hingga mendapatkan beasiswa ke George Washington University dari tempatnya bekerja. Selepas dari Bank Summa, Sandiaga pun ditawari bekerja di Sea Power Asia Investment Limited di Singapura oleh Edward Soerjadjaja.

Tak lama, Sandiaga pindah ke MP Holding Limited Group. Kemudian, ia melihat peluang untuk pindah ke NTI Resources Calgary Kanada. Di sini, karirnya mencapai level Executive Vice Prisedent. Sayang, di tempat terakhir ini, ia pun dipecat tanpa pesangon. Akhirnya, pada 1997, Sandiaga pun pulang ke Jakarta. Di Jakarta, ia telah melamar ke-25 perusahaan, dan semuanya menolak akibat krisis moneter 1997-1998.

Akhirnya, Sandiaga pun memilih menjadi wirausaha. Awal ia memulai usaha ialah ketika bertemu dengan Rosan P. Roeslani pada 1998. Karena banyaknya perusahaan yang collapse pada 1998, mereka pun berpikir membuat perusahaan jasa penasehat keuangan (financial advisor). Nama perusahaannya ialah Republik Indonesia Finance (Rifan).

Cara Kaya Ala Sandiaga
Source: rilis.id

Klien pertama Rifan ini adalah Jawa Pos Group. Pintu masuk untuk mendapatkan kepercayaan dari Dahlan Iskan memang tidak mudah. Sandiaga hanya punya waktu saat lift berjalan untuk mempresentasikan temuan masalah dan solusi restrukturisasi untuk Jawa Pos Group. “Pak Dahlan tidak perlu membayar saya sebagai konsultan perusahaannya kecuali saya berhasil,” ujar Sandiaga. Rifan pun mendapatkan proyek pertama di Jawa Pos Group.

 

“Pak Dahlan tidak perlu membayar saya sebagai konsultan perusahaannya kecuali saya berhasil.”

– Sandiaga Uno

 

Kisah suksesnya sebagai pengusaha kemudian berlanjut saat berkenalan dengan Edwin Soerjadjaja yang merupakan pendiri private equity Saratoga Investama Sedaya. Disinilah, karirnya sebagai wirausaha melejit karena berhasil melihat banyak peluang, membeli perusahaan, merestrukturisasi hingga besar dan menjualnya kembali ke publik.

 

Cara Kaya Ala Sandiaga
Source: Aktual.com

#2 Buy Low, Sell High

Ini adalah resep kedua menjadi kaya ala Sandiaga di perusahaan private equity miliknya Saratoga dan Recapital: membeli dengan harga murah, lalu menaikkannya menjadi punya nilai tinggi. Ada banyak perusahaan yang dibeli saat harganya sedang turun, lalu dibenahi dan dikelola untuk memiliki nilai tinggi.

Di kasus Recapital Advisor, pada 2004, Sandiaga pun berhasil memberi saham Pizza Hut Indonesia. Setelah sukses, Sandiaga pun menjual kembali. Pada tahun lalu, Recapital menjual Acuatico alias PT Aetra Air Jakarta ke Salim Group dengan nilai Rp 1,4 triliun.

Cara Kaya Ala Sandiaga
Foto: REUTERS/Beawiharta/File Photo

Adaro adalah sebuah perusahaan tambang yang awalnya dimiliki oleh perusahaan Spanyol di Kalimantan Selatan. Perusahaan ini beroperasi sejak 1980-an, tetapi produksi batubaranya tidak terlalu besar per tahun. Sebelum tahun 2005, batubara belum menjadi primadona, sehingga tidak banyak perusahaan yang melirik bisnis ini.

Tetapi, beda halnya dengan penciuman Sandiaga Uno. Melihat pesatnya perkembangan ekonomi China, Sandiaga melihat peluang tentang kebutuhan batubara yang akan meningkat. Pada 2001, Saratoga pun membeli 80% saham di Adaro dan membenahi perusahaan itu agar produksinya meningkat. Hasil transformasi dan restrukturisasi, Adaro bisa menghasilkan 25 juta ton per tahun pada 2005. Ini capaian luar biasa. Batubara pun boom dan menjadi komoditas ekspor yang menarik.

Saratoga untung besar dari pembelian Adaro ini. Inilah yang disebut dengan buy low, sell high: membeli dengan harga murah, tetapi saat ini perusahaan memiliki nilai yang tinggi. Untuk menjual tinggi, tentu saja, ini membutuhkan tangan si “raja midas” yang bisa memoles perusahaan sehingga memiliki daya jual yang tinggi.

 

#3 Akuntansi: Ibu Dunia Bisnis

Di McKinsey berlaku adagium problem solving at the firm begins with facts. Ya, semua pemecahan permasalahan bisnis harus berangkat dari fakta. Harus diakui, ilmu akuntansilah yang pertama kali digunakan oleh analis untuk menilai performa bisnis dan memahami operasi suatu perusahaan. Dan, cara kaya Sandiaga ketiga ialah menguasai ilmu akuntansi sebagai tools untuk terjun di dunia wirausaha.

Meskipun sejak SMA di Pangudi Luhur Sandiaga disarankan oleh para gurunya untuk masuk jurusan A1 (Fisika), dan nilai Sandiaga sendiri sangat bagus, tetapi hatinya jatuh ke pilihan A3 (Ilmu Sosial). Mengapa? Sandiaga menyukai pelajaran ekonomi dan akuntansi, dan ia telah bercita-cita untuk masuk Fakultas Ekonomi UI sejak SMA.

Akhirnya, pada saat kuliah di Wichita State University (WSU) Sandiaga memilih international finance. Mengapa Sandiaga memilih jurusan finance yang berbeda dengan saat SMA? Menurutnya, jika lari adalah ibu bagi seluruh cabang olahraga, maka akuntansi (finance) adalah ibunya dari bisnis.

Cara Kaya Ala Sandiaga
Source: www.nationalreview.com

Kemudian, setelah tamat kuliah di program sarjana, Sandiaga pun memilih kerja di Bank Summa, milik Edward Soerjadjaja. Saat kerja di sini, Sandiaga mendapatkan beasiswa dari perusahaan untuk melanjutkan gelar masternya. Sandiaga pun sekolah lagi di George Washington University dan memilih jurusan international business finance.

Dengan berbekal keahlian di finance ini, hal itu pun mengasah insting usaha Sandiaga. Bersama Rosan Roeslani mendirikan Republik Indonesia Finance (Rifan) pada 1999, yang kemudian berubah menjadi Recapital Advisor pada 2002. Perusahaan ini bergerak di bidang jasa konsultasi keuangan. Dengan adanya krisis moneter 1998, ini membuat banyak perusahaan collapse dan membutuhkan restrukturisasi untuk membangun kepercayaan di mata investor. Jawa Pos Group adalah salah klien pertama dari Recapital Advisor.

Saat bergabung dengan Saratoga, Sandiaga pun menjadi seorang yang menyiapkan berbagai investasi dengan calon partner. Saratoga bergerak sebagai usaha private equity. Dengan kekuatan network dengan calon investor, bersama Edwin Soerjadjaja, Sandiaga meyakinkan investasi yang dilakukan dapat menguntungkan. Bersama Saratoga, Sandiaga berhasil membeli PT Dipasena Citra Darmaja, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), PT Astra Microtronics, Adaro, Tower Bersama Infrastructure Group, Medco Power Indonesia, Mitra Pinasthika Mustika, dan lainnya.

 

#4 The Roles of Mentor

Salah satu faktor yang turut membentuk kesuksesan Sandiaga ialah keberadaan sang mentor. Di dalam teori leadership, keberadaan sang mentor penting untuk pengembangan karakter (soft skill) dan keterampilan (hard skill) bagi seorang entrepreneur. Di samping pengetahuan, wirausaha mendapatkan pelajaran berharga dari pengalaman sang mentor. Karena itu, cara ketiga menjadi kaya ala Sandiaga ialah pentingnya kehadiran sang mentor.

Cara Kaya Ala Sandiaga
Source: http://roda2blog.com

Para mentor yang menggembleng Sandiaga itu ialah William Soerjadjaja dan Edwin Soerjadjaja. Sebenarnya, Edward Soerjadjaja juga berperan, hanya Sandiaga tidak banyak menyebutkan bagaimana perannya di dalam buku yang ia tulis.

Mereka ialah satu keluarga yang turut membentuk karakter kewirausahaan Sandiaga. Om William dikenal sebagai pendiri Astra Group. Dari tangan William, Sandiaga belajar bagaimana melihat peluang dan kepemimpinan. Astra yang dibangun berawal dari pembelian PN Gaya Motor. Ini adalah titik awal kemajuan Astra karena kejelian Om William melihat peluang. Selain itu, Om William juga yang membawa Astra untuk berbisnis di kelapa sawit, yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh jajaran direksi Astra. Terbukti jitu, Astra Agrolestari pun berkembang mandiri dan menjadi profit center bagi Astra.

Lalu dalam hal gaya kepemimpinan, Sandiaga sangat terkesan bagaimana Om William saat turun tangan untuk membenahi kasus Bank Summa pada 1990-an. Om William rela melepaskan kepemilikannya atas Astra dan memberikan personal guarantee demi menyelematkan masyarakat dan nama baik keluarganya. Akhirnya, kasus Bank Summa bisa diselesaikan berkat gaya kepemimpinan Om William.

Sementara di Saratoga, Sandiaga sendiri banyak belajar dari Edwin Soerjadjaja. Edwin yang pertama kali mengajak untuk bergabung di Saratoga. Adik dari Edward Soerjadjaja itu dikenal sebagai pencari peluang, networker dan dealmaker. Sebagai pengusaha di sektor private equity, Edwin memang piawai mencari perusahaan-perusahaan yang akan dibeli dan dibenahi, lalu mencari investor yang bersedia untuk berinvestasi serta bernegosiasi tentang skema bagi-hasilnya.

 

#5 Nilai-nilai “4 as”

Cara Kaya Ala SandiagaDi samping sebagai pebisnis sukses, Sandiaga dikenal sebagai sosok yang religius. Ia adalah orang yang tak pernah melewatkan puasa sunnah Senin-Kamis, shodaqoh dan melaksanakan shalat Dhuha setiap hari. Dengan begitu, Sandiaga adalah sosok unik, yang memiliki kekayaan melimpah-ruah, tapi tak hilang sisi religiusitasnya.

Di samping itu, dalam menjalankan bisnisnya, Sandiaga memiliki nilai-nilai (values) sebagai landasan (foundation) dan spirit untuk menjalankan usahanya. Ia seringkali menyebutnya sebagai “4 as”, yakni kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas. Ini adalah cara terakhir menjadi kaya ala Sandiaga.

Pertama, kerja keras membutuhkan fokus. Saat kita mampu fokus, maka tenaga yang dimiliki pun akan keluar sehingga menghasilkan kinerja yang luar biasa dan tidak ada capeknya. Kedua, kerja cerdas yakni saat bekerja maka orang harus memiliki wawasan luas. Seringkali orang bicara bahwa kerja cerdas adalah soal efisiensi: kerja sedikit, tapi memberikan hasil yang baik. Agar bisa efisien, untuk itu diperlukan wawasan yang luas, sehingga tahu cara-cara manajemen bisnis baru.

Ketiga, kerja tuntas ialah soal konsistensi. Persistensi dan konsistensi adalah kunci sukses supaya kita bisa mencapai apa yang diinginkan. Seringkali, orang mudah bosan karena tergoda oleh kerjaan lain sehingga tidak telaten dan tekun untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulainya. Maka, kerja tuntas adalah kemampuan bersikap konsisten.

Keempat, kerja ikhlas adalah tentang passion. Asosiasi kata ikhlas sama dengan kerelaan, memberi, dan pasrah. Tetapi, bagi Sandiaga, makna ikhlas adalah passion, di mana ada keinginan, ketawakalan, dan sikap memberi. Dengan demikian, tidak hanya ambisi yang tinggi, tetapi ada tawadhu atau berserah diri kepada kehendak Tuhan, dan memberi kepada orang yang membutuhkan.