Trik Ramadan

Ramadan kerap identik dengan bulan suci dan penuh kebaikan. Tetapi, bagi salesman dan marketer, Ramadan adalah bulan penuh trik penjualan. Lalu, trik-trik apa yang mereka lakukan?

Ramadan kali ini kental diwarnai dengan iklan dan promosi penjualan yang masif dari para pemain retail online. Hampir semua saluran iklan diisi oleh mereka, baik televisi, media digital, social media, video sharing, dan lainnya. Mengapa mereka bisa digdaya? Lalu, kemana offline store? Mereka seolah kalah gaung dalam hal promosi dengan online retail. Berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu. Pemain telekomunikasi hampir mendominasi iklan atau sales promotion di seluruh media channel. Kini, mereka pun tiarap.

Jika melihat agresifnya pemain retail online, saya melihat ada tiga pola dalam memberikan program promosi penjualan kepada target pasarnya. Pertama, monetary value promotion. Mayoritas pemain memberikan program promosi dengan cara mengubah harga seperti diskon, potongan harga, cashback, dan lainnya, agar transaksi atau traffict naik. Kedua, non-monetary value promotion. Para pemain memberikan program promosi tanpa harus memotong harga secara langsung seperti kuis atau undian demi loyalitas. Ketiga, dalam program promosinya, para pemain menggunakan tagar. Ini adalah hashtags marketing yang bisa menciptakan engagement.

#1 cara klasik, bisa menaikkan traffict dan transaksi

Saat ini, pemain online retail melakukan cara-cara lama untuk menaikkan transaksi. Ini terlihat dari program promosi #AsliTulus JDID, #Puasale Lazada, #BagiBagiKebahagiaan Blibli, Ramadan Ekstra Tokopedia, dan lainnya. Meskipun dinilai strategi klasik, tapi masih relevan banyak digunakan oleh pemilik brand. Program promosi mereka sangat gencar dikomunikasikan. Mereka melakukan komunikasi melalui televisi, social media ads, koran, search ads, dan lainnya.

Shake, Shake Tokopedia cukup banyak digemari oleh pelanggan. Dengan hanya menggerak-gerakkan tangan, pelanggan bisa memiliki peluang untuk mendapatkan cashback atau diskon produk dari pelapaknya. Konsumen bisa mendapatkan diskon hingga 95%. Ini cara unik, sehingga hampir seharian orang ketagihan untuk membuka aplikasinya Tokopedia dan menggoyang-goyangkannya. Saking antusiasnya pelanggan, server Tokopedia pun sempat down pada tanggal 25 Mei lalu.

JD.ID pun melakukan hal sama dengan Tokopedia yakni flash sale pada jam tertentu. Beberapa produk sengaja dirilis supaya bisa mendongkrak citra mereknya dan traffict JD.ID. Contohnya, JD.ID melakukan flash sale dengan produk Meizu M6, dan pelanggan diber diskon hingga 50% lebih. Siapa cepat, dia yang dapat. Lagi-lagi, konsumen berlomba-lomba mendapatkan ponsel yang ecommerce-friendly itu.

Namun, berbeda dengan JD.ID yang penawaran produknya terbatas, #Puasale Lazada justeru memberikan offering yang lebih banyak, khususnya di fast-moving consumer goods (FMCG) seperti kosmetik, fashion, elektronik, dan lainnya. #Puasale Lazada hanya mengambil rentang waktu 25-28 Mei, yakni saat orang sudah menerima gaji bulanan atau THR.

Tak mau ketinggalan, pemain baru Shopee juga meluncurkan Goyang Hujan Emas pada Ramadan kali ini. Pelanggan hanya menggoyang-goyangkan handphone pada jam 5 dini hari dan sore. Lalu, peserta akan mendapatkan poin. Dalam waktu 30 menit, pelanggan didorong untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Total hadiah mencapai Rp 10 miliar. Tiap hari, pelanggan bisa mengetahui posisi perolehan poin di leaderboard. Selain itu, pelanggan juga bisa melihat produk-produk yang dijual Shopee diskon mencapai 90%. Otomatis, ini meningkatkan jumlah traffict pengguna Shopee hingga mencapai 500 ribu partisipan.

Lalu, dengan karakteristik seperti di atas, apa yang bisa dipelajari?

Pertama, berikan penawaran diskon yang bikin konsumen ngiler dan isi dompetnya meleleh. Oleh karena itu, seluruh pemain berani menawarkan diskon hingga 90%. Siapa berani banting diskon, maka dia akan mendapatkan traffict tinggi dari pelanggan.

Kedua, persempit ruang gerak waktu pelanggan, sehingga mereka dipaksa untuk membeli cepat. This is a flash sale tactics. Hanya dalam waktu-waktu tertentu, konsumen bisa berburu diskon yang ditawarkan.

Ketiga, co-branding dengan produk yang ingin nge-boost penjualannya. Ini taktik win-win. Bagi product owner, mereka bisa menumpang program promosi yang dilakukan ecommerce seperti Meizu M6 dengan JD.ID. Bagi ecommerce, mereka mendapatkan produk branded dan bergaransi resmi.

#2 ciptakan benefit baru tanpa memotong harga, ini bisa mendorong loyalitas

Gojek merupakan contoh bagus dalam hal menciptakan benefit baru bagi konsumen untuk mendorong loyalitas. Tanpa harus mengurangi harga. Dengan program #CariPahala, Gojek menciptakan fitur baru untuk mendeteksi masjid terdekat di sekitar pelanggan. Gojek pun bisa memberikan rekomendasi masjid yang bisa dituju oleh pelanggan, lalu layanan Goride pun bisa langsung dipesan saat itu juga. Taktik ini didesain untuk menjaga loyalitas pelanggan dengan memberikan benefit baru.

Ini cara menarik yang bisa digunakan oleh pemilik brand lain. Ingat, Anda tidak harus menggunakan cara-cara lama seperti di nomer 1, yang memakan biaya cukup besar. Melalui cara ini, Anda justeru dapat lebih efisien, tapi tetap bisa mendorong loyalitas dan penjualan.

Program promosi #SenyumKebaikan ala Wardah pun bisa diterapkan. Ini dirancang hanya untuk merawat pelanggan merek kosmetik Islami tersebut. Setiap pelanggan Wardah bisa menceritakan aktivitas kebaikannya di media sosial, lalu menyertakan tagarnya. Secara tidak langsung, melalui cara ini, Wardah ingin mengajak pelanggannya berbuat baik kepada orang lain. Ingat, tema-tema seputar berbagi, kebaikan, kesolehan, kebersamaan, kekeluargaan, toleransi, dan lainnya, adalah topik yang banyak digunakan untuk promosi.

Secara cerdas, Wardah menggunakannya untuk program promosi. Di samping narsis, pelanggan juga diajak berbuat baik. Yang beruntung, Wardah akan memberikan voucher produk kepada pelanggan. So, cara ini tidak memakan biaya banyak atau memotong harga produk, melainkan hanya menambahkan kegiatan baru untuk mendorong loyalitas.

 

#3 menggunakan hashtags marketing, kita bisa menghitung engagement

Jika kita amati, seluruh program promosi penjualan online retail menggunakan hashtags marketing. Ini adalah cara pemilik merek untuk membiarkan pelanggannya mengetahui apa yang dilakukan. Atau sebaliknya, cara konsumen memikirkan dan membicarakan tentang brand tertentu. Dengan hashtags marketing, maka Anda tengah membangun engagement bersama pelanggan di media sosial. #AsliTulus JDID, #Puasale Lazada, #BagiBagiKebahagiaan Blibli, #CariPahala Gojek, #SenyumKebaikan Wardah, dan lainnya.

Bisakah kita menggunakan hashtags marketing untuk kegiatan promosi produk? Oooo bisa banget… Dari cara hashtags marketing yang dilakukan oleh para pemain di atas, saya merangkum, setidaknya ada tiga benefit dari hashtags marketing untuk kegiatan promosi.

Pertama, call-to-action hashtags. Artinya, hashtags yang kita ciptakan dirancang untuk mengajak konsumen  bertindak. Kalimat ataupun frase yang digunakan biasanya menggunakan kata ajakan, dorongan, tindakan, ataupun diawali dengan kata kerja. Contohnya #CariPahala Gojek, #BukayangBaik Bukalapak, atau #BagiBagiKebahagiaan Blibli.

Kedua, trending hashtags. Semua pemilik brand ingin berlomba-lomba menjadi yang paling top di kancah media sosial. Karena itu, hashtags marketing digunakan supaya mereka bisa viral. Di saat komunikasi dengan pelanggan, hashtags harus selalu mereka sampaikan kepada konsumen. Pada akhirnya, pelanggan pun akan menggunakan hashtags yang sudah digunakan.

Ketiga, chat hashtags. Setiap kali diskusi ataupun nge-thread di media sosial, kita sudah biasa pakai hashtags. Begitupun pemilik merek. Tujuannya adalah supaya memudahkan kita dalam mengukur tingkat kedalaman percakapan pelanggan terhadap produk, jasa atau promosi yang sedang dilakukan. Salah satu tools yang bisa membantu untuk nge-track bagaimana performa hashtags marketing yang kita rancang ialah Keyhole.