Wirausaha Ciputra

 

Bagi wirausaha di tanah air, Ciputra adalah guru. Ia begawan yang menghabiskan hidupnya untuk mengembangkan usahanya hingga berkembang pesat di tanah air maupun di luar negeri. Ia adalah salah satu raja properti di tanah air dengan memiliki tiga grup kerajaan bisnis properti yang besar: Jaya Group, Metropolitan Development Group dan Ciputra Group.

 

Para wirausaha harus belajar bagaimana ia membangun usaha dari nol hingga besar. Belum lama ini, Ciputra meluncurkan buku biografinya Ciputra The Entrepreneur: The Passion of My Life (2018). Buku yang ditulis Alberthiene Endah ini cukup tebal sehingga banyak perjalanan hidup sang maestro yang dikupas, mulai dari masa kecil hingga saat ini.

Wirausaha CiputraAda beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari gaya wirausaha Ciputra. Saya menyimpulkan ada lima pelajaran penting dari Ciputra untuk para wirausaha lain. Pertama, kemiskinan yang dihadapi Ciputra memicu untuk berbuat baik dan bergerak maju. Keadaan tidak membuatnya loyo dan menyerah.

Kedua, wirausaha itu menghasilkan mahakarya, dan Ciputra membuktikkan produk/layanan propertinya menjadi masterpiece di tanah air. Mahakaryanya ini menjadi kerajaan bisnis properti yang besar di tanah air. Ketiga, modal menjadi wirausaha itu istiqamah: fokus terhadap apa yang dicintai dan sabar untuk berbuah. Ciputra hanya berbisnis di properti, tidak mencari sektor lain sebagai ladang usahanya. Dari bisnis ini, ia tekun dan sabar untuk memanennya.

Keempat, seorang wirausaha harus punya mimpi. Mimpi itu dasar untuk aksi yang dilakukan sehari-hari dengan perilaku dan prinsip yang benar. Ciputra punya tiga jurus: miliki impian, perilaku 5D dan prinsip IPE. Terakhir, kelima, wirausaha harus mampu melahirkan pemimpin baru. Ciputra mendirikan perusahaan keluarga sebagai kawah candradimuka melahirkan wirausaha baru.

 

#1 Penderitaan Sebagai Lecutan Menjadi Wirausaha

Bill Gates pernah mengatakan bahwa if you born poor it’s not your mistake, but if you die poor it’s your mistake. Ya, jika Anda terlahir miskin, itu bukan salah Anda, tapi kalau mati dalam keadaan miskin, itu salah Anda sendiri. Kata-kata itu cukup telak, sehingga seorang wirausaha dipacu untuk menghasilkan uang dalam hidupnya.

Buku biografi Ciputra ini dibuka oleh penderitaan masa kecil yang dialami oleh Ciputra. Penderitaan ini yang melecut dirinya untuk bangkit agar menjadi orang sukses. “Akar hidup saya adalah cinta dan penderitaan. Kedua hal itu memimpin diri saya sama kuatnya. Cinta membuat saya selalu ingin berbuat yang terbaik. Dan penderitaan memacu diri saya untuk bergerak maju,” tulis Ciputra.

 

 

“Akar hidup saya adalah cinta dan penderitaan. Kedua hal itu memimpin diri saya sama kuatnya. Cinta membuat saya selalu ingin berbuat yang terbaik. Dan penderitaan memacu diri saya untuk bergerak maju.”

 – Ciputra

 

 

 

Nama asli Ciputra adalah Tjie Tjin Hoan. Ia terlahir dari kedua orang tua pedagang klontong. Ia merupakan generasi ketiga perantau dari Fujian yang menetap di wilayah Gorontalo. Sang kakek sukses membangun bisnisnya di daerah tersebut, hingga sang ayah pun ikut-ikutan berbisnis seperti kakeknya.

 

Singkat cerita, Ciputra dititipkan di rumah kakek dan bibinya. Di rumah mereka, Ciputra mendapat pendidikan keras, sampai-sampai ia merasa ketakutan jika berbuat salah dan harus menghadapi mereka. Akibat pendidikan keras ini, Ciputra pun memiliki karakter yang keras juga dalam gaya kepemimpinannya. Pada 1944, sang ayah ditangkap oleh polisi militer Jepang dan meninggal di bui. Kejadian ini melecut Ciputra untuk dewasa dan mandiri.

Hidup miskin di Gorontalo mendorong Ciputra untuk melakukan yang terbaik agar derajat hidupnya naik. Untuk itu, Ciputra pun bersungguh-sungguh sekolah hingga akhirnya bisa masuk di ITB. Dari sinilah, Ciputra sukses menjadi seorang wirausaha yang mapan dengan kerajaan bisnis propertinya.

 

Wirausaha Ciputra
Photo by Bagus Tri Laksono (www.indonesiadesign.com)

#2 Wirausaha Itu Menghasilkan Mahakarya

Sejak awal memutuskan sebagai wirausaha, Ciputra selalu berpikir bagaimana menghasilkan mahakarya. Saat ia kuliah di ITB (1954-1960), pada tahun ke-2 ia telah mendirikan CV Daya Tjipta bersama dua teman lainnya yakni Budi Brasali dan Ismail Sofyan. Pada saat itu, pemerintah sedang gencar-gencarnya menata dan membangun kota, dan ia merasa gelisah karena harus berkontribusi.

Akhirnya, ia memutuskan untuk menjadi konsultan paruh waktu untuk pembangunan di tanah air. Mayoritas order pekerjaan yang diterima adalah membantu desain rumah perorangan. Sampai suatu ketika, Ciputra dipercaya untuk menjadi konsultan dan pengawas pembangunan di Aceh untuk proyek Bank of Sumatera. Terbukti, saat Aceh diguncang gempa, Bank of Sumatera masih kokoh berdiri.

Perjalanan menghasilkan mahakarya itu ia aktualisasikan saat menggarap proyek penataan Pasar Senen. Ciputra dipercaya oleh Presiden RI Ir. Soekarno dan Gubernur DKI Soemarno Sosroatmodjo untuk membantu pembangunan Pasar Senen. Akhirnya, dibentuklah PT Pembangunan Jaya pada 1961 yang akan menggarap proyek-proyek pembangunan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Proyek Pasar Senen memakan waktu hampir 10 tahun dengan kondisi keuangan yang terbatas. Hasilnya, Pemerintah Pusat maupun DKI Jakarta puas dengan penataan Pasar Senen ini.

Dengan modal proyek Pasar Senen yang strategis, Ciputra pun langsung tancap gas berani menggarap proyek Ancol sebagai taman rekreasi laiknya Disneyland. Meskipun Pemerintah tak mampu mendukung pendanaan, Ciputra berani membangun Ancol secara bertahap dengan metode kerjasama dan kredit perbankan.

Wirausaha Ciputra
Source: historyancol.wordpress.com

Ancol belum sepenuhnya rampung, Ciputra sudah merintis pembebasan lahan dan pembangunan Bintaro Jaya dan Pondok Indah. Bintaro dibangun oleh Pembangunan Jaya dan Pondok Indah oleh Metropolitan Development. Bintaro Jaya cukup sukses dipasarkan karena menarget masyarakat yang menghuni di kawasan kota satelit. Sampai saat ini, Bintaro Jaya masih berkembang dengan baik.

Pondok Indah adalah proyek ambisius Ciputra. Proyek ini dikerjakan oleh Metropolitan Development, sebuah perusahaan yang didirikan oleh Ciputra bersama dua teman kuliahnya yakni Budi Brasali dan Ismail Sofyan. Bersama Liem Sioe Liong, Ciputra membentuk Metropolitan Kentjana untuk menggarap hunian mewah seluas 450 hektar. Di kawasan hunian itu, Ciputra mengembangkan lapangan golf kelas dunia, mal terbesar (PIM 1 dan 2), rumah sakit, dan lainnya. Proyek ini pun sukses besar.

Sebagaimana kita ketahui, proyek-proyek mahakarya Ciputra masih ada hingga saat ini. Bumi Serpong Damai, hunian Citraland, Ciputra World, World Trade Center Sudirman, Metropolitan Mall, dan lainnya. Ini adalah bukti bahwa wirausaha itu menciptakan mahakarya. Sebagaimana diungkapkan oleh Ciputra sendiri bahwa apa yang ia kerjakan bukanlah mencari kekayaan semata, melainkan sebanyak mungkin proyek yang dikerjakan. Proyek itu dimaknai oleh Ciputra sebagai peluang untuk membuat mahakarya.

 

#3 Kekuatan Wirausaha Adalah Istiqamah

Orang banyak bertanya, bagaimana Ciputra dapat sukses menjadi wirausaha. Kuncinya ialah istiqamah. Secara harfiah, istiqamah itu berarti persistensi dan konsisten. Agar bisa persisten dan konsisten, wirausaha memiliki kekuatan fokus dan kesabaran. Bila kita lihat bagaimana Ciputra menghasilkan mahakarya, ia membutuhkan waktu yang tak sebentar, melainkan bertahun-tahun. Hanya ketekunan dan kesabaran yang mengantarkan Ciputra bisa menghasilkan mahakaryanya.

Mengapa menjadi wirausaha harus fokus? Sejak 17 tahun lalu, Chris Zook sudah menerbitkan buku triloginya Profit from the Core (2001), Beyond the Core (2004), Unstoppable (2007), bahwa salah satu modal untuk tumbuh secara berkelanjutan adalah core business. So, saran Chris, jika kita ingin sukses, kita tidak perlu mencari-cari sumber pertumbuhan lain di luar core competency.

Dalam hal fokus, Ciputra sangat menyukai sekali dunia properti. Ia jatuh cinta pada ilmu arsitektur sejak SMA. Kecintaannya pada arsitektur membuat Ciputra berhasil mengembangkan tiga entitas usaha pengembang properti berbeda yakni Pembangunan Jaya (1960), Metropolitan Development (1970) dan Ciputra Group (1981). Pembanguanan Jaya adalah bentuk kerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta, Metropolitan Development sebagai bentuk kesetiakawanan kepada dua sohibnya dan Ciputra Group ialah manifestasi kecintaannya pada keluarga.

Tiga entitas usaha ini kini menjadi kelompok bisnis properti yang besar di tanah air. Mereka memiliki puluhan hingga ratusan anak usaha. Ini adalah kekuatan Ciputra dibandingkan pengusaha lain: fokus pada inti bisnis yang dicintainya yakni pengembang properti dan arsitektur. Hanya sedikit jumlah anak usaha Ciputra yang bergerak di bidang non-properti, seperti Metro Data Electronics atau bisnis medianya (Tempo, Jawa Pos, Bisnis Indonesia, dll.).

Lalu, mengapa pula seorang entrepreneur harus memiliki sikap kesabaran? Spirit daya tahan banting dilandasi oleh kesabaran. Membangun usaha itu butuh proses, sehingga dibutuhkan sikap sabar dan konsisten untuk menggelutinya. Dalam kasus Ciputra, saat ia akan mengerjakan proyek properti, salah satu kasus yang sering dihadapi adalah pembebasan lahan. Proses ini memakan waktu hingga bertahun-tahun. Dan, Ciputra sangat sabar untuk menghadapi persoalan ini agar proyek berikutnya bisa berjalan mulus.

Wirausaha Ciputra
Source: www.99.co

Kalaupun Ciputra berhasil membangun, tak selalu bahwa proyek propertinya langsung laris terjual. Contohnya ialah proyek pembangunan Citraland Cengkareng yang membutuhkan kesabaran agar masyarakat tertarik membeli di kawasan itu.

So, bila para master ingin menjadi wirausaha hebat laiknya Ciputra, maka harus punya sikap istiqamah. Ingat, istiqamah itu berarti fokus dan sabar.

 

Wirausaha Ciputra
Source: swa.co.id

#4 Wirausaha Hebat Berawal Dari Mimpi ke Aksi

Apa modal menjadi wirausaha hebat? Ciputra punya tiga jurus yakni the power of dream, 5D dan IPE. Apa itu? Saat memutuskan ingin menjadi wirausaha, kita harus punya impian. Semua hal berawal dari mimpi. Menurut Ciputra, agar mimpi terealisasi menjadi aksi harus dilandasi sikap 5D yakni dream, desire, drive, discipline, dan determine. Semua itu harus dijaga dengan prinsip IPE yaitu integrity, professionalism dan entrepreneurship.

Pertama, the power of dream ialah impian yang dimiliki dan ingin dicapai, sehingga segara upaya kita kerahkan untuk merealisasikan mimpi tersebut. Seorang wirausaha harus punya mimpi yang ingin dicapai. Jika seorang pengusaha hanya hidup mengalir, maka sesungguhnya ia tidak memiliki target yang ingin dicapai. So, punya impian itu wajah, dan hanya mimpi yang bisa mendorong orang untuk mencapai hasil terbaik.

Kedua, perilaku 5D: dream, desire, drive, discipline, dan determine. Dream adalah impian yang didasaran pada visi. Dengan perilaku visioner, maka wirausaha selalu punya keinginan yang ingin dicapai. Lalu, desire ialah keinginan, hasrat atau gairah (passion). Cerminan dari sikap ini ialah semangat. Drive adalah dorongan untuk merealisasikan mimpi. Discipline adalah sikap teratur. Semua target bisa dicapai jika kita tertib dan teratur. Terakhir, determine yakni sikap untuk mendorong orang agar semuanya berjalan.

Ketiga, mimpi dan perilaku itu dilandasi oleh prinsip IPE: Integrity, Professionalism dan Entrepreneurship. Integritas adalah mengenai kejujuran, komitmen, kredibilitas dan kepercayaan. Dengan kata lain, integritas adalah soal pembangunan karakter seorang pengusaha. Tanpa integritas, sulit bagi pengusaha untuk membangun bisnisnya secara jangka panjang.

Profesional adalah tentang keahlian, kepakaran dan nilai di mata konsumen. Pakar dalam satu bidang tertentu itu sangat penting bagi pengusaha. Mengapa? Inilah yang akan menjadi selling point sehingga pelanggan melihatnya sebagai value. Orang yang tidak memiliki kepakaran akan sulit membangun kepercayaan di mata pelanggan. Ciputra adalah pakar sebagai arsitektur dan pengembang kawasan, sehingga namanya jadi suatu jaminan kualitas terhadap produk/layanan propertinya.

Entrepreneurship ialah soal menciptakan peluang, keberanian ambil risiko dan mengonversi peluang menjadi uang. Secara sederhana, entrepreneurship adalah keberanian dan kemampuan menjadikan uang. Menjadi pengusaha, tentu harus punya mental entrepreneurship: berani ambil risiko dan menciptakan peluang sehingga menjadi bisnis.

 

#5 Melahirkan Pemimpin Wirausaha Baru

Pakar kepemimpinan James Kouzes and Barry Z. Posner pernah mengatakan bahwa tugas seorang pemimpin adalah menghasilkan pemimpin yang lain. Leaders create another leader. Dan, Ciputra melakukan ini dengan mendirikan Citra Habitat Indonesia (CHI) yang berubah menjadi Ciputra Group. Mengapa Ciputra perlu mendirikan Ciputra Group? Padahal ketika itu ia telah memegang dua grup usaha besar yakni Pembangunan Jaya dan Metropolitan Development.

Salah satu kekhawatiran Ciputraa saat karir dirinya tengah naik daun ialah bagaimana dengan nasib anak-anaknya kelak? Akankah mereka ikut bersamanya berkarir di Pembangunan Jaya dan Metropolitan Development? Jika mereka ikut merubung proyek di Pembangunan Jaya dan Metropolitan Development, anak-anak Ciputra pasti akan berebutan dengan putra-putri rekannya yang akan berkarir di sana juga. Akhirnya, Ciputra memutuskan ia ingin anak-anaknya bisa membuat sendiri dan langsung dimentori oleh dirinya.

 

 

“Saya ingin melakukan mentoring pada anak-anak saya benar-benar dari akar. Jangan mengepakkan sayap di dahan pohon yang sudah tinggi. Mereka harus benar-benar terlibat sejak benih disemai agar kekuatan mereka dalam menjalankan usaha memiliki fondasi yang kuat karena berdasarkan pengalaman.”

 – Ciputra

 

 

Alasan Ciputra mendirikan Ciputra Group adalah sebagai bentuk kecintaannya pada keluarga. Sejak akhir 1970-an, ketika anak-anaknya bersekolah di Amerika Serikat, Ciputra sudah memikirkan masa depan mereka. Dengan begitu, Ciputra pun memiliki inisiatif untuk mendirikan perusahaan properti yang menjadi kawah candradimuka untuk penggemblengan kewirausahaan pada anak-anaknya. Dan, Ciputra sendiri yang ingin menjadi mentor langsung bagi anak-anaknya.

Wirausaha Ciputra
Source: batam.tribunnews.com

Maka, ketika anak-anaknya pulang kuliah dari Amerika, Ciputra langsung memberikan mereka penugasan untuk mencari lahan kosong potensial. Citraland dan Bumi Serpong Damai adalah beberapa contoh proyek yang dikerjakan Ciputra bersama anak-anaknya. Lalu, jika para master sudah menjadi wirausaha, apakah Anda melibatkan putra-putri untuk membangun usaha keluarga? Inilah ciri wirausaha hebat yang jangan Anda lupakan.