The Next One Biografi Dahlan Iskan

Dahlan Iskan adalah Jawa Pos, dan sebaliknya Jawa Pos adalah Dahlan Iskan. Dua nama ini satu sama lain saling berkaitan, mirip dengan Kompas dan Jacob Oetama serta Media Indonesia dengan Surya Paloh. Di Jawa Pos, Dahlan menjadi raja media di tanah air. Lalu, pertanyaannya, bagaimana Dahlan menjadi sang raja media?

 

Tips Dahlan Iskan Bisnis Media — Saat dirinya menjadi kandidat presiden melalui konvensi Partai Demokrat, buku biografi Dahlan Iskan terbit. Judulnya buku The Next One: Biografi Dahlan Iskan (2014) karya Budi Rahman Hakim dan M. Deden Ridwan. Buku ini bercerita panjang lebar tentang perjalanan karir dari nol hingga Dahlan mampu membangun kerajaan bisnis dengan kepemilikan lebih dari 140 media cetak, 40 jaringan televisi nasional, percetakan besar, pembangkit listrik independen, dan lainnya. Semua kerajaannya dinaungi oleh Jawa Pos National Network (JPNN).

Akan tetapi, pada tahun 2017 lalu, sempat beredar berita tentang mundurnya Dahlan Iskan dari Jawa Pos Group atau JPNN. Dahlan ditengarai tidak cocok dengan pergantian posisi anaknya Azrul Ananda (Ulik) oleh putra mahkota pemilik saham Jawa Pos Group lain. Usut punya usut, Ulik digeser oleh Hidayat Jati putra mahkota dari Goenawan Mohamad, yang memiliki saham di Jawa Pos Group.

Dengan isu mundurnya Dahlan, banyak orang tidak percaya bagaimana sang “juru penyelemat” yang membawa kejayaan Jawa Pos Group akhirnya lengser dari kerajaan yang berhasil ia bangun sejak 1980-an. Dengan demikian, banyak orang menyayangkan dan menganggap bahwa Jawa Pos tanpa Dahlan bukanlah Jawa Pos.

Terlepas dari polemik Jawa Pos diujung masa pensiun Dahlan, saya ingin merangkum bagaimana kiat sukses Dahlan membesarkan koran ini hingga menjadi kerajaan bisnis besar. Hanya Jawa Pos Group yang bisa menandingi Kompas Group. Kita tahu, dua media ini terbesar di tanah air. Lalu, bagaimana cara Dahlan membesarkan Jawa Pos Group?

Tips Dahlan Iskan Bisnis Media

Setelah membaca buku The Next One, saya menemukan ada tiga kunci sukses bagaimana Dahlan membangun kerajaan media ini. Pertama, content is everything. Di industri media, produk/layanan inti bisnis ini adalah konten. Maka, salah satu yang dibenahi Dahlan setelah alih kepemilikan dari pemilik lama adalah membenahi konten dan sistem SDM-nya. Ini adalah pabrik dari bisnis media.

Kedua, mengepung Indonesia dengan radar (berita daerah). Ya, ini adalah kesuksesan untuk menjadi raja media di Indonesia ialah dengan berita daerah. Ketiga, ekspansi melalui kemitraan dengan media lokal yang memiliki potensi untuk dibesarkan. Baru kemudian, Jawa Pos pun masuk ke non-media, sebagaimana diakui Dahlan, ia belajar dari Jacob Oetama. Untuk sukses ekspansi, maka strategi yang dilakukan Dahlan adalah akuisisi atau bangun kemitraan dengan media lokal.

Keempat, manajemen ala bonek. Di sini, bonek diartikan sebagai keberanian ambil peluang, risiko, tidak bertele-tele karena prosedur ribet, dan kecepatan ambil tindakan. Dahlan identik dengan gaya kepemimpinan koboy atau manajemen ala bonek. Ia kerap mendobrak prosedur yang lamban atau bertele-tele. Dengan cara ini, Dahlan sukses membangun Jawa Pos secara cepat.

 

Tips Dahlan Iskan Bisnis Media
Source: pasangiklankoran.net

 

#1 Konten Adalah Segalanya

Ketika diakuisi oleh PT Grafiti Pers dan Dahlan dipercaya untuk memimpin Jawa Pos pada 1982, oplah surat kabar ini hanya enam ribu eksemplar. Kalah jauh dibandingkan dengan koran sore Surabaya Post yang mencapai seratus ribu eksemplar. Ini adalah PR besar yang dihadapi Dahlan untuk menjawab kepercayaan sang bos besar Eric FH Samola.

Apa yang dilakukan oleh Dahlan untuk membenahi Jawa Pos? Hal mendasar yang disoroti Dahlan adalah konten. Mengapa konten? Dahlan selalu mengatakan pada anak buahnya bahwa produk/layanan ini dari bisnis media adalah konten. “Kalau koran tidak laku, pasti sebabnya karena beritanya,” ujar Dahlan. Menurut Dahlan, semakin beritanya enak dibaca, maka semakin tinggi tirasnya. Ini semakin tinggi pulsa pengiklannya. Tingginya iklan, maka bisa membayar gaji karyawan dan ekspansi.

 

 

“Kalau koran tidak laku, pasti sebabnya karena beritanya.”

Dahlan Iskan

 

Konten Jawa Pos kala itu tidak menarik, terlalu memperhatikan peristiwa-peristiwa besar nasional (laiknya koran nasional), peristiwa besar di daerah, narasumber yang terlalu mengandalkan orang-orang besar, dan lainnya. Tak jauh berbeda dengan Surabaya Post. Tetapi, Surabaya Post unggul dalam hal manajemen sehingga oplahnya lebih besar.

Awal mula Dahlan membangun Jawa Pos untuk menyaingi Surabaya Post, maka yang dia lakukan adalah membenahi konten koran, selain mekanisme kerja dan job description yang jelas. Untuk membenahi konten, Dahlan pun merancang 10 Rukun Berita yang wajib jadi pegangan seluruh wartawan di lapangan. Adanya 10 Rukun berita ini, otomatis setiap wartawan dipacu untuk memenuhi standard Jawa Pos.

Apa saja ke-10 Rukun Berita itu? Pertama, semua peristiwa yang ditulis harus menyangkut tokoh layak berita. Kedua, semua peritiwa besar layak menjadi berita. Ketiga, unsur berita yang baik harus dekat dengan pembaca. Keempat, menjadi selalu yang pertama untuk diangkat di koran. Kelima, berita yang baik itu memiliki human interest. Keenam, setiap berita harus memiliki misi atau tujuan. Ketujuh, nilai keunikan dalam berita. Kedelapan, Jawa Pos harus menyediakan berita eksklusif seperti hasil investigasi. Kesembilan, berita di koran mampu memotret tren gaya hidup yang terjadi. Kesepuluh, peristiwa keberhasilan atau prestasi layak jadi berita.

Hasilnya, dalam lima tahun, Dahlan berhasil merebut pasar Jawa Timur dengan konten Jawa Pos. Oplah koran itu pun naik signifikan melampaui dua kompetitornya. Pada 1987, oplah Jawa Pos sudah tembus ke angka 126.000 eksemplar, melampaui pesaingnya Surabaya Post yang oplahnya 100.000 eksemplar. Tingginya oplah Jawa Pos saat itu, tidak hanya ditopang oleh kontennya, melainkan distribusi koran itu sendiri. Dahlan tak segan mengajak keluarga karyawan atau anak sekolahan untuk membantu penjualan koran Jawa Pos. Koran ini pun sukses besar sehingga mendorong nyali untuk ekspansi.

Dalam penulisan, Dahlan lebih menyukai gaya newsy atau feature yang menjadi ciri khas di Tempo. Dahlan sendiri adalah alumni Tempo, sehingga warna tulisan Jawa Pos pun mirip-mirip majalah tersebut. Dengan gaya tulisan ini, banyak peristiwa kecil ataupun besar yang dikemas menarik.

 

Tips Dahlan Iskan Bisnis Media
Source: tirto.id

#2 Mengepung Indonesia dengan Radar

Radar berasal dari kata berita daerah. Hampir di setiap kota besar atau kabupaten, Jawa Pos Group memiliki koran lokal dengan brand radar. Radar sendiri berarti alat untuk mendeteksi sinyal, peta, dan gelombang radio. Laiknya radar, maka hampir seluruh wilayah Indonesia telah dikepung atau ditutup oleh jaringan media lokal Jawa Pos Group. Itulah kesuksesan besar Dahlan Iskan.

Mengapa berita daerah? Dari awal berkarir di Samarinda, Dahlan adalah wartawan lokal tulen yang namanya besar di kancah nasional karena lokalitas. Sejak muda, Dahlan dikenal sebagai aktivis Pelajar Islam Indonesia, dan aktif saat kuliah di IAIN Sunan Ampel Cabang Samarinda. Karena aktivismenya, Dahlan pernah dicari-cari polisi karena ikut serta demonstrasi Malari di Samarinda. Pemilik surat kabar Mimbar Masyarakat Sayid Alwi yang menyelematkan Dahlan dan mengajaknya bergabung untuk menjadi wartawan.

Tips Dahlan Iskan Bisnis Media
Source: kickdahlan.wordpress.com

Sayid Alwi mengatakan bahwa ada cara elegan untuk menyalurkan idealisme tanpa harus takut dikejar-kejar polisi yakni menjadi wartawan. Dahlan pun setuju menjadi wartawan di Mimbar Masyarakat. Inilah titik awal kehidupan Dahlan yang memperkenalkan dirinya pada dunia jurnalistik.

Di Mimbar Masyarakat, nama Dahlan mencuat. Ia pun masuk dari salah satu perwakilan Mimbar Masyarakat mengikuti program LP3ES untuk magang di media nasional selama tiga bulan pada 1976. Tiga bulan di Tempo ia banyak mengenal para pendiri media itu: Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, Bur Rasuanto, Putu Wijaya, Syubah Asa, dll.

Singkat cerita, tahun 1978, Dahlan pun ditawari menjadi kepala biro majalah Tempo di Surabaya. Gayung bersambut, Dahlan pun pindah ke Surabaya. Empat tahun mengelola biro Surabaya, Dahlan pun ditawari Eric Samola untuk menangani Jawa Pos yang sudah diakuisisi oleh PT Grafiti Pers (Pemilik majalah Tempo).

Dengan demikian, sepanjang karirnya Dahlan Iskan, ia memang hidup di daerah dan pekerjaannya ialah “menghidupi” koran daerah. Untuk itu, misi besar Dahlan membesarkan Jawa Pos ialah ingin membuktikan bahwa ia bisa mengalahkan media besar nasional di Jakarta dengan media lokal.

Waktu itu koran-koran lokal minder menghadapi media nasional, karena secara SDM dan oplah mereka pasti kalah. Sebaliknya, Dahlan sangat percaya diri terhadap koran lokal. Ia percaya bahwa lokalitas atau kontek yang melokal ini adalah keunikan yang seharusnya mewarnai media di tanah air. Untuk ambisi itu, maka Dahlan sangat concern agar anak buahnya percaya diri mengangkat berita di daerahnya.

Cerita selanjutnya, kita tahu sendiri bahwa Dahlan menjadi raja media lokal dengan memimpin sekitar 140 surat kabar, 40 televisi lokal, puluhan majalah, percetakan yang tersebar, pembangkit listrik independen, dan lainnya. Bahkan, pada 1990-an hingga 2000-an, Jawa Pos menjadi surat kabar dengan pemasukan iklan terbesar kedua setelah Kompas.

 

Tips Dahlan Iskan Bisnis Media
Source: kompasiana.com

#3 Ekspansi Melalui Kemitraan

Cepat besarnya jaringan media lokal Jawa Pos karena keberhasilan mengakuisisi atau menjalin kemitraan dengan media lokal. Pada awalnya, Dahlan dan Eric Samola menerbitkan Cahaya Siang di Manado. Sayang, tak sukses. Lalu, Dahlan pun mencoba ekspansi bisnis di luar media. Ini pun tak sukses. Rupanya, ia sukses membesarkan bendera Jawa Pos setelah menjalin kemitraan dengan harian Fajar di Makassar.

Kesuksesan membesarkan Jawa Pos, nama Dahlan pun terdengar di daerah. Pemilik harian Fajar Alwi Hamu pun mengajak Dahlan untuk membesarkannya. Dahlan setuju dan membentuk PT Media Fajar sebagai bentuk kemitraan antara Jawa Pos dan harian Fajar pada 1985. Dari sinilah, Jawa Pos berhasil ekspansi dan menguasai sebagian besar Indonesia Timur seperti Pare Pos, Palopo Pos, Radar Sulbar, Radar Selatan, Buton Pos, Kendari Pos, Ambon Ekspres, Timor Ekspres, Palu Ekspres, Rakyan Sulsel, Fajar TV, Fajar FM, dan lainnya.

Dengan demikian, ini adalah cara unorganic growth, di mana Dahlan tidak membangun nol, melainkan cukup membeli yang ada dan membenahi agar menjadi profit center. Strategi ini cukup sukses dan koran-koran lokal yang diakuisisi pun diberi brand baru yakni radar, pos, dan ekspres.

Sejak saat itu, Jawa Pos memiliki delapan wilayah pengelolaan surat kabar yang dinaunginya. Pertama, Jawa Pos mengelola surat kabar yang berada di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Nusa Tenggara. Pusatnya berada di Surabaya. Kedua, Riau Pos yang mengelola wilayah Riau, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pusatnya berada di Pekanbaru.

Ketiga, Sumatera Ekspres untuk wilayah Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, dan berpusat di Palembang. Keempat, Rakyat Merdeka yang bergerak di wilayah Jakarta, Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah. Kantor pusatnya ada di Jakarta. Kelima, harian Pontianak Pos yang mengelola wilayah Kalimantan Barat dan pusatnya berada di Pontianak.

Keenam, harian Kaltim Post untuk wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Tengah. Pangkalannya berada di Balikpapan. Ketujuh, Fajar Group yang berpusat di Makassar dengan mengelola wilayah Sulawesi Selatan dan Maluku. Kedelapan, Fajar Group dengan harian Manado Post mengelola wilayah Sulawesi Utara, Halmahera, Papua Barat, dan pusatnya berada di Manado.

 

Tips Dahlan Iskan Bisnis Media
Source: https://equator.co.id

#4 Bonekstyle: Cara Memimpin dan Manajemen Dahlan

Bonek bukan berarti asal modal nekat tanpa perhitungan risiko bisnis. Dalam hal manajemen dan gaya kepemimpinannya, sikap bonek Dahlan adalah result-oriented dan customer-focused. Ia kerap kali tidak peduli dengan berbagai prosedur yang membuat bertele-tele. Ia sering bersikap tidak mau tahu harus selesai dan menciptakan hasil yang baik. Dengan gaya kepemimpinan ini, para anak buah Dahlan pun mengikuti gaya yang ia lakukan. Inilah bonek management ala Dahlan Iskan.

Reporter yang liputan dituntut untuk lebih teliti dalam melakukan wawancara. Dahlan sangat keras dan tidak mentoleransi terhadap kesalahan yang dilakukan oleh anak buahnya. Untuk itu, apa yang dilakukan oleh Dahlan saat membangun Jawa Pos ialah nongkrong di depan pintu masuk ruang redaksi, tak bosan bertanya pada wartawan apa yang sedang ditulis dan memastikan anak buahnya turun ke lapangan dan melaporkan berita yang bagus. Dengan cara ini, ia menerapkan self-sensoring bagi seluruh wartawannya.

Gaya kepemimpinan bonek seperti ini pun Dahlan terapkan di saat menjadi Direktur Utama PLN dan Menteri BUMN. Di saat menjadi Dirut PLN, ia meminta setiap kegiatan meeting tidak boleh lama karena akan menghambat eksekusi. Lalu, setiap orang dikurangi jatah dinas keluar kota karena ini tidak efektif. Setiap karyawan pun harus mengutamakan penanganan permasalah di areanya daripada mengikuti acara di luar kota, kecuali sangat mendesak. Dengan terobosan ini, Dahlan berhasil memangkas anggaran meeting dan mendorong orang PLN agar berubah menjadi eksekutor yang baik.

Saat menjadi menteri BUMN, Dahlan kerap beraksi menjadi koboi. Suatu waktu, Dahlan pernah jadi sorotan berita karena membuka palang pintu tol dan menyuruh kendaraan masuk tanpa membayar. Mengapa? Saking kesalnya dengan antrian panjang dan beberapa pintu tol tidak dibuka, Dahlan pun langsung keluar dari mobilnya dan membukanya untuk masyarakat. Menurut Dahlan, pengelola tol tidak customer-oriented, sehingga membiarkan pengendara mobil macet-macetan, sementara palang pintu lain tidak dibuka.

Dengan gaya boneknya di pemerintahan, Dahlan memang menjadi media darling. Apa yang dilakukan oleh Dahlan kerap menjadi sorotan.