Gelombang gaya hidup minimalis dan digital tengah marak di kalangan anak muda. Ini sukses dimanfaatkan oleh Uwitan. Kini, dengan berhasil menunggangi gaya hidup minimalis dan digital, Uwitan menjadi salah satu merek furnitur dari Yogyakarta yang cukup diperhitungkan.

Selain itu, daya beli masyarakat Indonesia juga semakin tinggi sehingga selera terhadap konsumsi produk/jasa pun naik. Mereka menginginkan produk berkualitas tinggi, tetapi harga harga terjangkau. Dan, Uwitan merupakan produk furnitur yang berkualitas ekspor dengan harga terjangkau untuk masyarakat Indonesia.

Uwitan mengusung tagline “unique wooden craft, solid material, and fair price”. Showroom Uwitan terletak di Jalan Monjali 134, Sinduadi, Sleman, Yogyakarta. Pembelinya tersebar dari berbagai kota mulai Jabodetabek, Batam, Bali, Lampung, Bandung, Jogja, sampai Sangatta (kecamatan terluar Indonesia di Kalimantan Timur). Tak aneh, jika Uwitan mampu menjual berbagai jenis furniture hingga dua truk besar setiap bulannya ke berbagai kota tersebut.

Uwitan berdiri sejak Bulan Agustus 2015. Aji Akbar Titimangsa dan sang istri merintis usahanya dari garasi rumah kontrakan. Awalnya ia bergerak di bidang jual-beli properti sampai bertemu dengan produsen furniture kelas ekspor di Tegal yang menjadi mitra produksinya sampai sekarang. Pemilik pabrik produksi mengaku bisnis furniture ekspor itu sulit, sering mengalami penumpukan barang karena gagal jual. Apalagi kalau tidak punya bendera sebagai eksportir terpercaya, padahal produk yang mereka jual sangatlah berkualitas dan tidak ada cacat karena quality control yang ketat.

Aji melihat masalah tersebut sebagai peluang. Kalau tidak laku di luar negeri, kenapa tidak menjualnya di pasar lokal saja. Toh, kualitas produk telah dilirik pasar internasional dan mempunyai standar mutu tinggi. Produsen furniture tersebut pesimis dengan pendapat itu, tetapi perjuangan Aji dan istrinya telah membuktikan. Mitra produsen tersebut kini hanya melayani pesanan dari Uwitan secara total, tidak lagi menggarap furniture untuk ekspor.

Uwitan bekerjasama dengan enam pabrik pengrajin furniture untuk memenuhi pesanan pelanggan. Ada yang berasal dari Tegal, Cirebon, Pemalang, dan Pasuruan. Mereka akan semakin sibuk ketika musim liburan datang karena permintaan produk melonjak drastis. Orang-orang melihat Uwitan sebagai destinasi belanja sekaligus melihat Uwitan sebagai referensi untuk solusi mempercantik rumah bergaya minimalis.

Ada empat poin utama yang menjadi kunci keberhasilan Aji membangun bisnis Uwitan dari nol. Kita bisa simak ulasannya sebagai berikut.

 

#1 Fokus ke Gaya Hidup Minimalis

Gaya hidup minimalis telah jadi tren gaya hidup global. Marie Kondo adalah salah role model yang memiliki pengaruh besar terhadap preferensi masyarakat di dalam gaya hidup. Sejak kelahirannya, Uwitan pun mempositioningkan sebagai furnitur minimalis dengan corak warna simpel, multifungsi, tampilan serat kayu artistik, dan Instagramable. Ia berhasil menunggangi tren gaya hidup global ini. Tak heran ia digemari segmen anak muda yang punya spirit minimalis. Untuk itu, Uwitan terus dikelola agar tetap berada di relnya. Kekuatan utama Uwitan adalah produk lokal, gaya minimalis, dengan kualitas ekspor.

Minimalism sendiri memiliki berbagai komunitas yang berkembang dan dapat menjadi referensi riset pasar dan produk. Minimalism adalah inti desain dan identitas Uwitan. Bahkan Aji juga tidak memasang logo Uwitan di paket pembelian atau produknya, hanya di label pengiriman. “Aku ingin agar orang langsung tahu itu produk Uwitan dengan gaya minimalisnya, bahkan waktu menerima produk tanpa atribut tambahan,” ujar Aji.

Uwitan sebagai produk minimalis
Simpel dan Instagramable

#2 Mengandalkan Saluran Digital & Personal Touch

Sampai saat ini, digital merupakan saluran penjualan andalan Uwitan. Digital punya andil besar terhadap pendapatan usahanya. Apa yang dilakukan oleh Uwitan? Uwitan mengandalkan website, Instagram dan ecommerce. Dengan demikian, ia harus pintar membuat konten visual agar target pasar menarik serta menggunakan jasa endorsement para artis.

Luasnya jangkauan pasar Uwitan disokong media sosial Instagram. Aji memaksimalkan penggunaan Instagram dan situs web untuk mendukung aktivitas pemasarannya sejak Uwitan berdiri sampai sekarang.  Ia rajin menyisir pelanggan potensial sekaligus mempromosikan Uwitan. “Engagement merupakan kunci pemasaran di media digital, bisa dimulai dengan fitur like dan ads,” tuturnya.

Visual adalah faktor penting dalam penjualan produk home decoration, maka Instagram yang mengedepankan konten foto adalah pilihan yang tepat. Selain itu, kita juga harus memahami bagaimana algoritma media sosial bekerja agar bisa memaksimalkan fitur-fitur di dalamnya.

Uwitan juga menggunakan jasa endorsement. Artis yang mereka endorse seperti Yura, Petra Sihombing, Kunto Aji, dan lain sebagainya. Pernah juga Uwitan meng-endorse Wulan Guritno dengan produk senilai Rp2,5 juta tanpa tambahan apa pun. Berbeda dengan artis-artis lain yang sampai Rp10 juta lebih. Itu dikarenakan Wulan Guritno sudah menyukai produk Uwita terlebih dahulu.

Aji juga menambahkan faktor customer relationship sebagai hal yang harus diperhatikan. “Pelanggan kan membeli produk dengan harga Rp500 ribu ke atas. Otomatis mereka merasa perlu mendapatkan informasi lengkap dan jelas tentang barang yang dibeli. Kalau cuman dilayani dengan chatbot, mereka akan merasa sangat tidak puas karena interaksi yang kurang humanis. Percakapan langsung sangat diperlukan dan WhatsApp menjadi media yang cocok,” cerita Aji.

 

#3 Memilih Target Pasar Pasangan Muda

Ada banyak brand atau produk yang menyasar segmen milenial, tetapi bagi Aji seorang pemasar harus paham dengan mendetail. “Milenial tidak bisa dipukul rata, itu isu besar soal tren pemasaran. Tetapi untuk implementasinya kita sendiri yang harus paham bagaimana habit target pembeli kita,” jelas Aji.

Segmen pasar Uwitan adalah pengantin baru yang baru mulai menata kebutuhan rumah tangganya. Mereka masih mendapatkan subsidi dari orang tua, sehingga daya belinya kuat untuk membeli produk-produk furniture. Aji pernah menyasar karyawan bank yang pendapatan bulanannya tergolong tinggi, tetapi ternyata tidak sesuai dengan produk Uwitan. “Secara mindset, pegawai bank memang mempunyai pendapatan besar tetapi bukan tipe pembeli yang mencari produk lokal dan unik,” pungkas Aji.

 

#4 Peka Selera Pasar

Ada banyak produk furniture yang beredar, tetapi pasar selalu mempunyai selera tersendiri. Misalnya saja peningkatan request untuk produk custom furniture termasuk material pembuatan dari rotan. Produk rotan Uwitan mulai diminati sejak akhir 2018 dan selalu terjual habis sampai sekarang.

Uwitan setiap bulannya selalu mengusahakan minimal satu produk baru untuk dimunculkan. Inspirasi desain produk bisa berasal dari mana saja seperti Pinterest, permintaan custom pelanggan, atau inspirasi dari lingkungan sekitar. Sekitar 40% produk Uwitan merupakan desain Aji yang kemudian dikembangkan lagi oleh bagian produksi.

“Orang-orang menyukai produk minimalis. Mereka butuh produk furniture yang multifungsi, tidak makan tempat, dan instagrammable. Kita bisa melihatnya dari penggunaan dua macam warna yang lembut, bentuk sederhana, dan tampilan serat kayu yang artistik. Itulah alasan kenapa kayu pohon pinus dipilih sebagai material utama,” jelas Aji.

Penulis: Yolanda Fajar Nurmanto